NewsStyle

Banyak yang Salah dalam Niat Sholat Tarawih

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Di dalamnya ada satu ibadah agung yang hanya hadir setahun sekali, yaitu shalat Tarawih. Namun, di balik semangat yang tampak di awal Ramadhan, ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: bagaimana niat kita dalam melaksanakannya?

Keutamaan Shalat Tarawih, Shalat Tarawih memiliki keutamaan yang sangat besar. Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang melaksanakan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa pahala shalat Tarawih sama seperti keutamaan puasa Ramadhan: diampuni dosa-dosa yang telah lalu, dengan dua syarat utama:

1. Imanan (إيمانًا) → karena iman, yakin akan janji Allah.

2. Ihtisaban (احتسابًا) → mengharap pahala hanya dari Allah ﷻ.

Tanpa dua hal ini, amal bisa menjadi rutinitas kosong.

Fenomena Awal dan Akhir Ramadhan, Mari kita renungkan. Di awal Ramadhan kita bertanya: Masjid mana yang kosong dari jamaah? Hampir tidak ada. Masjid, mushalla, majelis ta’lim semuanya penuh. Bahkan sampai meluber ke jalan dan gang.  Sajadah sudah dibentangkan sebelum adzan Isya berkumandang agar tempat tidak diambil orang lain. Namun pertanyaan yang sama kita ulang di pertengahan atau akhir Ramadhan: Masjid mana yang penuh jamaahnya?  Yang awalnya terasa sempit, kini terasa luas. Yang tadinya berbaris hingga ke luar, kini tinggal beberapa saf. Yang penuh justru pusat perbelanjaan, terminal, dan tempat-tempat lainnya.

Fenomena ini menyedihkan. Mengapa semangat di awal tidak bertahan hingga akhir? Jawabannya kembali pada niat. Banyak yang Tarawih karena: Ikut-ikutan, tradisi tahunan, kebiasaan lingkungan atau tak enak hati jika tidak hadir. Padahal Rasulullah ﷺ justru semakin mendekati akhir Ramadhan, semakin bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Dan teladan yang dicontohkan Rasulullah di Akhir Ramadhan.  Seperti hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

“Apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengencangkan ikat pinggang maksudnya adalah bersungguh-sungguh, menjauhi hal-hal yang melalaikan, dan fokus total dalam ibadah. Berbeda dengan kita yang justru mengendurkan semangat ketika Ramadhan hampir selesai

Siapa yang Mendapat Ampunan? Yang mendapatkan ampunan dari shalat Tarawih bukan sekadar yang hadir di awal Ramadhan.Tetapi mereka yang: menjaga shalat hingga akhir Ramadhan, konsisten bersama imam sampai selesai, melaksanakannya dengan iman atau sendiri, mengharap pahala hanya dari Allah ﷻ Karena ampunan itu bukan untuk yang ramai-ramai saja, tetapi untuk yang ikhlas dan istiqamah.

Oleh karena itu mari kita renungankan, Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu kita jumpai lagi. Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, Ramadhan datang dan pergi, namun dosa-dosa kita belum diampuni. Mari luruskan niat. Mari jaga Tarawih sampai akhir. Mari hidupkan malam-malam Ramadhan sebagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan.

Semoga Ramadhan tahun ini kita mampu menjaga shalat Tarawih kita semaksimal mungkin, dengan iman dan penuh pengharapan kepada Allah ﷻ, sehingga Allah memberikan ampunan kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Penulis: Ustad Ripki Atkia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *