NewsStyle

Pengajian Hari Bermuhammadiyah di PWM DKI Jakarta Soroti Pentingnya Kejujuran dan Ketertiban

Jakarta, jktmu.com – Acara Pengajian Hari Bermuhammadiyah sukses diselenggarakan pagi ini (Rabu, 3 Januari 2026), pukul 08.00 WIB, bertempat di Aula Ir. H. Djuanda Lantai 5. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pimpinan daerah Jakarta dan anggota serta kepala sekolah Muhammadiyah, dengan fokus utama pada penguatan nilai-nilai keagamaan dan sejarah organisasi.
Acara dibuka dengan khidmat, diawali pembacaan ayat suci Al-Quran dari surat An-Nur ayat 35-37, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah.
Ketua PWM DKI Jakarta, Bapak Abubakar, berhalangan hadir karena menjenguk kakaknya yang sakit di Lombok. Posisinya diwakili oleh Bapak Supriyadi. Dalam sambutannya, Bapak Supriyadi menyampaikan sejarah awal mula Muhammadiyah di Jakarta, mencakup poin-poin penting berikut:
*Inisiasi K.H. Ahmad Dahlan: Inisiasi pendirian cabang Jakarta (Betawi) dimulai saat K.H. Ahmad Dahlan dalam perjalanan ke Tanah Suci, bertemu dengan tokoh pelopor seperti Soewito, Sardjono, dan Kartosudarmo.
Pendirian Cabang: Muhammadiyah Cabang Betawi resmi didirikan pada tanggal 18 November 1921.
*Propaganda dan Pengembangan: Pada Januari 1922, K.H. Ahmad Dahlan bersama Haji Fakhruddin dan M. Abdullah pergi ke Betawi untuk mengadakan propaganda pendirian sekolah guru agama Islam. Upaya sosialisasi dilakukan melalui tabligh, pengajian, dan pendidikan.
*Pengakuan Pemerintah: Permohonan K.H. Ahmad Dahlan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang di seluruh Indonesia dikabulkan pada 2 September 1921. Prof Kamil Karta Praja tercatat sebagai PWM pertama DKI Jakarta.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis dana sumbangan bencana Sumatra dan Aceh dari LAZISMU UMJ, Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, dan seluruh pimpinan daerah Jakarta.
Acara inti pengajian disampaikan oleh Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp. S, M.Kes. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat selamanya. Peserta pengajian diingatkan untuk senantiasa menjadi orang yang jujur dan tertib, dua hal yang tidak bisa terpisahkan, karena semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Penulis: Tamim Hamzah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *