Mutiara Ramadhan: Puasa Tapi Tetap Merugi
Ramadhan adalah bulan ampunan. Sungguh merugi orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, namun ketika Ramadhan berlalu dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan doa Jibril dan mengaminkannya: celakalah orang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad melalui Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Apa Itu Puasa? Secara bahasa (lughah): Puasa (الصوم) berarti menahan diri. Secara istilah (syar’i): Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah. Namun, penjelasan fikih ini baru sebatas perkara yang membatalkan puasa secara hukum. Adapun yang membatalkan pahala puasa, jumlahnya jauh lebih banyak: dusta, ghibah, fitnah, berkata kotor, melihat yang haram, dan maksiat lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang bangun (shalat malam), namun tidak mendapatkan dari qiyamnya kecuali begadang.” (HR. Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Majah)
Na‘udzubillah… jangan sampai kita termasuk golongan ini.
Menurut Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, puasa terbagi menjadi tiga tingkatan:
1.Puasa Orang Awam (Shaumul ‘Umum) Menahan diri dari makan, minum, dan syahwat.
Ini adalah tingkatan dasar, sekadar memenuhi syarat sah puasa.
2. Puasa Orang Khusus (Shaumul Khusus) Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dan menjaga seluruh anggota badan dari dosa: Lisan dari dusta dan ghibah, Mata dari pandangan haram, Telinga dari mendengar keburukan, Tangan dan kaki dari maksiat atau berbuat dzalim kepada orang lain, Inilah puasa yang menjaga pahala.
3. Puasa Khususul Khusus, Puasa hati menjaga hati dari selain Allah. Hatinya dipenuhi dzikir, tafakur, dan keikhlasan. Tidak memikirkan dunia secara berlebihan. Pertanyaannya untuk diri kita masing-masing: Kita Ada di Tingkat Mana?, Sudahkah puasa kita naik dari sekadar menahan lapar dan dahaga?, Minimal, jangan hanya di tingkat pertama. Usahakan berada di tingkat kedua (puasa orang khusus): menjaga seluruh pancaindra dari maksiat. Karena sejatinya, puasa bukan hanya menahan yang membatalkan secara fikih, tetapi mempuasakan seluruh anggota tubuh dari dosa.
Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan. Kita menahan lapar di siang hari, lalu kenyang di malam hari. Kita bangun sahur dan berbuka, tetapi hati tetap lalai. Jangan sampai yang berpuasa hanyalah perut kita, sementara mata tetap melihat yang haram, telinga tetap mendengar yang sia-sia, lisan masih berdusta dan menggunjing, tangan dan kaki melangkah kepada maksiat, dan hati tetap jauh dari Allah ﷻ.
Semoga Ramadhan kita menjadi jalan ampunan, bukan sekadar rutinitas tahunan dan Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang diampuni sebelum Ramadhan meninggalkan kita.
اللهم بلغنا رمضان واغفر لنا فيه يا رب العالمين
Penulis: Ustad Ripki Atkia
