Beda Awal Puasa Lagi? Ini Penjelasan Lengkap Perbedaan Penetapan Ramadhan Muhammadiyah dan Pemerintah
Jakarta, jktmu.com — Perbedaan penetapan awal bulan suci Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah Indonesia kembali menjadi perhatian masyarakat. Meski kerap terjadi hampir setiap tahun, perbedaan ini sejatinya bukanlah bentuk pertentangan, melainkan perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadhan menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap munculnya bulan sabit (hilal), yang kemudian diputuskan melalui sidang isbat bersama para ulama, ahli astronomi, dan organisasi Islam.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi matematis untuk menentukan posisi bulan tanpa harus menunggu pengamatan langsung di lapangan. Jika secara perhitungan hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka keesokan harinya sudah dianggap masuk bulan baru.
- Perbedaan Metode, Bukan Perbedaan Ibadah
Metode hisab dipilih karena dinilai lebih pasti dan dapat diprediksi jauh hari sebelumnya. Dengan metode ini, warga Muhammadiyah bahkan dapat mengetahui jadwal Ramadhan hingga bertahun-tahun ke depan.
Di sisi lain, pemerintah mempertahankan rukyat karena dianggap sebagai pendekatan yang menggabungkan perhitungan astronomi dan praktik observasi langsung sebagaimana tradisi yang berkembang dalam sejarah Islam.
2. Mengapa Bisa Berbeda?
Perbedaan biasanya terjadi ketika posisi hilal menurut perhitungan astronomi sudah berada di atas ufuk (memenuhi kriteria Muhammadiyah), tetapi secara pengamatan visual belum terlihat atau belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan pemerintah.
Akibatnya, warga Muhammadiyah terkadang memulai puasa lebih dahulu atau lebih lambat satu hari dibandingkan keputusan pemerintah.
3. Imbauan untuk Saling Menghormati
Pemerintah dan tokoh-tokoh ormas Islam terus mengimbau masyarakat agar menyikapi perbedaan ini dengan bijak. Perbedaan metode ijtihad dalam Islam merupakan hal yang wajar dan telah berlangsung sejak lama. Yang terpenting, umat Islam tetap dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk, menjaga persatuan, serta saling menghormati pilihan masing-masing.
Perbedaan awal puasa pun diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi bentuk kekayaan tradisi keilmuan Islam di Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan ukhuwah.
Penulis: Krispiyadi
